Soleh, abangku sayang :)
Wajah lugu belum berdosa itu menatapku lembut
seakan memintaku untuk tetap bersamanya. Satu bulan sudah aku ada di
penampungan ini. Dirumah kedua teman-teman baruku, karena rumah pertama mereka
yang sudah lenyap terbawa arus laut yang dengan liarnya menyapu daratan. Kecil,
remaja, dewasa, bahkan lansia. Disini semuanya berteman, disini semua
bersaudara, dan disini semua menjadi keluarga. Aku keluarga baru bagi mereka
dan akan menjadi keluarga abadi mereka walaupun tugasku disini akan segera
selesai.
“ kakak, aku punya permen untuk kakak.” Tangan kecil itu memberiku
beberapa bungkus permen rasa coklat. “ terima kasih, sayang. “ kataku sambil
menerima permen-permen itu. “ kak ajeng masih akan disini kan?” tangannya
menggandengku, seolah ingin menahanku untuk pergi. “ iya, aisyah. Kakak masih
disini kok. Dihati Aisyah juga.” Dengan reflek tanganku menyentuh pipinya.
Gadis kecil ini mengingatkanku akan banyak hal. Diusianya yang masih sangat
kecil, ia sudah bisa hidup sendiri. Peristiwa itu telah merenggut keluarganya.
Semua lenyap, semua kembali padaNya. Wajah lugu nan cantik itu masih bisa
tersenyum walaupun semua telah menghilang. Ayah, ibu, adik mereka semua telah
tidur manis bersama malaikat-malaikatMu. Tapi tengoklah gadis kecil ini, dia
masih bisa tersenyum untuk orang lain. Walau sebenarnya dia berat untuk tinggal
hanya berdua dengan kakaknya. Soleh, begitu orang-orang memanggilnya. Jangan
tanya apa dia sudah bisa menjaga adiknya, aisyah. Kalau aku boleh memilih untuk
menjadi adik siapa, pasti aku akan memilih soleh. Usianya tak kalah jauh dari
aisyah. Delapan tahun, ya itulah usianya. Masih kecil bukan? Tapi jangan salah,
tanggung jawab dan pengorbanannya lebih tinggi dan jauh lebih besar dari
usianya. Sore itu soleh bercerita padaku tentang kisahnya dan ceritanya itu
membuatku terharu. Sangat terharu.
“ sore itu, ibu minta aku untuk menjaga
aisyah kak. Biasanya aisyah selalu ingin bermain bersamaku dan teman-temanku.
Ya sudah akhirnya aku mengajaknya. Walau sebenarnya saat itu aku lagi marah
banget sama aisyah.” Soleh menunduk. “ marah kenapa soleh?” tanyaku sambil
terus memandangnya. “ ibu selalu saja membela aisyah. Aku sama sekali nggak
disayang. Tiap hari aisyah terus yang dikasih hadiah. Aku enggak.” Soleh
menangis. Ini kedua kalinya aku melihatnya menangis. Pertama, aku melihatnya
menangis saat ia diketemukan dengan adiknya, aisyah. “ bukan enggak pernah
soleh, tapi belum.” aku menutup mulutku. Oh tidak aku salah ngomong. “ belum
kak? Tapi sekarang ibu sudah tidak ada. Apa aku harus menunggunya kembali?”
soleh mulai bertanya banyak. Aku mencari seribu cara untuk menjawabnya. “
soleh, begini sayang. Ibu soleh nggak akan pernah melupakan soleh dan aisyah.
Sekalipun yang diberi hadiah aisyah terus dan soleh belum. Tapi kakak yakin seratus
persen kalau ibu sudah mempersiapkan hadiah untuk soleh.” Kataku sambil
tersenyum dan mengusap kepala botaknya. “ kakak yakin ibu sudah mempersiapkan
hadiah untukku?” ia terus bertanya. “ iya.” Jawabku singkat dan tersenyum
menatapnya. “ tapi kapan?” inilah pertanyaan yang kutakutkan. Aku pun tak tau
jawabannya. Kapan ibunya akan memberikan hadiahnya. Tapi aku yakin dalam hati
kalau ibu soleh sudah mempersiapkan hadiah untuk anak sulungnya itu. “ suatu
hari nanti soleh.” Soleh pun sepertinya puas akan jawabanku. Walau sepertinya
ia juga masih bingung, siapa, apa, dan kapan suatu hari itu.
Sore ini lapangan sangat ramai. Orang-orang
berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pentas seni yang sudah disiapkan
oleh anak-anak beberapa hari yang lalu. Banyak yang mereka lakukan, ada yang
bernyanyi, menari, membaca puisi, bahkan mencurahkan isi hati. Ya, inilah
suasana yang menyenangkan. Disaat kita bisa berkumpul bersama dengan yang lain,
tanpa merasa sendiri. Sendiri dan sendiri terpaku menyesali yang telah terjadi.
Beberapa jam telah berlalu, pentas seni ini masih juga berjalan. Wajah-wajah
yang dulu muram, gelisah, dan bahkan telah kehilangan arah, sekarang berubah
menjadi wajah-wajah penuh bahagia. Bahagia karena masih bisa menikmati hembusan
udara dan angin, bahkan deburan ombak yang mereka takuti. Tapi, toh semua dari
Allah dan akan kembali pula padaNya.
Kalau sedari tadi semua sudah bergembira ria.
Sekarang, bersiap-siaplah meneteskan air mata. Tangan kecil itu memegang
secarik kertas usang kemudian membacanya.
Allah ya
Rahman ya Rahim..
Kemarin Kau
kirimkan semua itu pada kami..
Semua yang
mungkin mereka sebut bahkan juga kami sebut sebagai bencana..
Namun, aku
sadar bahwa tanpa itu kami juga tidak akan pernah menyadari..
Sadar akan
kuasaMu yang maha dahsyat..
Ayah, ibu, yusuf..
Aku minta
jaga keluargaku ya Allah..
Sore itu,
aku berdosa membangkang perintah ibu..
Sore itu,
sebenarnya aku memarahi aisyah..
Aku tak
mengizinkannya bermain bersamaku..
Aku hanya
menyuruhnya duduk dan menjaga sandalku..
Hingga dia
merengek dan minta pulang..
Dan
melaporkan kenakalanku pada ibu..
Namun,
ternyata sampai saat ini aisyah belum bisa memberitahu ibu akan kenakalanku..
Air itu
begitu dahsyatnya menyapu daratan rumah kami juga ikut terseret ya Allah..
Dirumah sederhana
itu ada ayah, ibu, dan Yusuf..
Akankah
mereka masih mengingat kami berdua di tengah bencana itu..
Sedangkan
kami hanya berdiri diam menyaksikan semua kejadian itu dari atas sana..
Ya Allah,
kalau Engkau izinkan..
Aku titip
kalimatku ini pada ibu..
Ibu yang
selalu aku sayang dan aku cinta..
Hadiah itu
telah aku terima..
Selama ini
aku hanya merajuk minta hadiah seperti yang ibu beri pada Aisyah..
Namun, aku
sudah mendapatnya sekarang..
Hadiah yang
lebih indah daripada bola sepak yang aku minta selama ini..
Kebersamaanku
dengan aisyah..
Hadiah ini
membuatku bisa menjaganya dan melindunginya..
Seperti
pesan ibu padaku bahwa aku harus menjadi kakak yang baik..
Aku berjanji
akan menjaga aisyah sampai aku berkumpul lagi dengan ibu, ayah, dan Yusuf..
Sorak sorai penonton mengiringi usainya puisi
itu. Puisi yang begitu panjang dan indah. Curahan dari seorang anak usia
delapan tahun yang ditinggal keluarganya dan harus hidup berdua dengan adiknya.
Aisyah berlari keatas panggung dan memeluk erat kakaknya itu. Isak tangis haru
terdengar dari barisan penonton. Begitu juga aku, air mata ini sudah tak bisa
ku tahan. Dari mulut seorang anak delapan tahun bisa keluar kata-kata seindah
dan sebijak itu. Apa aku juga bisa sepertinya? Ikhlas akan cobaan yang
diberiNya. Dan memulai kehidupan baruku tanpa menengok kembali ke belakang. Soleh
mulai mengingatkanku kalau Allah tidak pernah memberikan cobaan melewati batas
kemampuan hambaNya. Ya, walaupun akhirnya ia harus hidup berdua hanya bersama
aisyah. Senyum kecilnya yang amat manis itu membuat isak tangisku semakin
kencang dan berlari menuju panggung untuk memeluknya. “ terima kasih soleh,
hadiah itu begitu indah untuk kamu resapi secepat itu. Kamu memang hebat.
Selalu ingat janji soleh pada ibu ya. Kakak yakin kamu lelaki hebat dan
bertanggung jawab.” Aku tersenyum lebar dan memeluk mereka berdua dengan erat.
Pagi ini, matahari ini, tanah ini,
rumput-rumput ini menjadi saksi kepergianku. Bukan apa-apa, aku harus
menyelesaikan pelajaran singkat nan berharga ini dengan tangisan haru dan
senyum kepuasan. Dari sosok anak kecil pun aku bisa belajar apa itu hidup
sebenarnya. Hidup itu ikhlas, hidup itu perjuangan, hidup itu bersama-sama, dan
hidup itu selalu ingat Allah. Aku melangkah pergi, perlahan mobil jeep ini
berjalan. Walau masih pelan, namun rasanya mereka sudah jauh. Atau aku yang
semakin cepat menjauh? Suara itu terus memanggilku. “ ini untuk kakak.” Soleh
berlari kencang dan dibelakangnya ada aisyah yang senantiasa mengikuti kemana
saja kakaknya pergi. Permen coklat dan secarik kertas berisi puisi yang kemarin
ia bacakan menjadi kenangan paling indah untuk ku kenang. Terima kasih, Allah
selalu menyertai kita semua. Soleh dan aisyah adik-adik kecilku yang paling
kubanggakan. Selamat berjumpa lagi.