Kamis, 10 Januari 2013

ayook baca niih :)

Steak Feses ???

Percaya atau tidak, kotoran manusia ternyata bisa dijadikan bahan utama pembuatan daging steak dan burger! Penemuan mencengangkan ini berasal dari Mitsuyuki Ikeda, seorang ilmuwan dari Laboratorium Okayama, Jepang. Ikeda berhasil meneliti dan melakukan terobosan baru dengan membuat daging untuk steak dan burger yang berasal dari kotoran manusia.
Ikeda mengaku mendapatkan ide gila ini ketika badan pengelolaan lembah Tokyo Sewage meminta kepadanya untuk mencari sebuah solusi atau cara bagaimana memanfaatkan limbah (mendaur ulang sampah) di kota itu. Populasi manusia menciptakan akumulasi lumpur limbah, dimana dalam lumpur limbah tersebut terkandung feses yang berlebihan. Kandungan protein yang tinggi yang terdapat dalam lumpur limbah tersebut ternyata yang menjadi pemicu munculnya ide Ikeda.
Menurut Ikeda, kotoran yang ada dalam sistem pembuangan sampah dikombinasi dengan protein karena penuh dengan bakteri. Timnya kemudian mengekstraksi protein yang terdapat dalam lumpur limbah tersebut agar berbentuk seperti steak. Untuk menampilkan daging seperti aslinya, Ikeda menambahkan zat pewarna makanan pada daging tersebut untuk menciptakan warna yang kemerahan. Kemudian ia membumbuinya serta menambahkan kecap sebagai penyedap rasa. Tujuan menambahkan unsur-unsur tersebut agar dapat menghasilkan daging yang artifisial. Setelah dianalisa, ternyata kandungan gizi yang terdapat dalam steak feses tadi tergolong cukup tinggi. Kandungan gizi dari steak feses tersebut terdiri dari 63% protein, 25% karbohidrat, 3% lemak, dan 9% mineral.
Selanjutnya Ikeda melakukan uji coba atas penemuannya itu kepada sejumlah orang tanpa memberitahu asal-usul pembuatan daging artifisial itu. Ikeda mengklaim setiap orang yang memakan steak buatannya tersebut mengatakan rasanya cukup lezat, tekstur dan rasanya benar seperti daging sapi yang sesungguhnya.
Terlepas dari bahan pembuatnya, Ikeda berharap daging artifisial ini bisa menjadi salah satu solusi dalam mengantisipasi pemanasan global. Dikatakan bahwa daging buatan Ikeda tersebut adalah makanan ramah lingkungan. Selama ini hewan ternak menghasilkan emisi gas rumah kaca yang cukup besar.
Namun sayangnya, harga daging kotoran manusia buatan Ikeda itu masih jauh lebih mahal dibandingkan dengan daging sapi. Harga itu menjadi konsekuensi dari biaya riset dan berbagai peralatan yang digunakan. Harga jualnya pun ternyata bisa 10 hingga 20 kali lebih mahal dibandingkan steak biasa. Ikeda berpendapat, jika daging buatan itu bisa diproduksi secara massal, harganya mungkin bisa jauh lebih terjangkau.
Jika benar daging untuk steak dan burger temuan Ikeda tersebut akan dipasarkan ke publik, apakah mungkin masyarakat bisa menikmati steak dan burger tersebut? Sedangkan mereka tahu bahan dasar daging steak tersebut berasal dari kotoran manusia. Lantas, bagaimana cara mempopulerkan daging steak tersebut? Membayangkannya saja sudah membuat perut terasa mual, apalagi harus menyantap daging artifisial temuan Ikeda tersebut!
Mohon maaf bila postingan ini membuat selera makan anda hilang atau bahkan tidak berani menatap steak atau burger yang ada di depan mata anda. Karena steak dan burger yang dimaksud hanya berada di Jepang.

cerpen for all :)



Soleh, abangku sayang :)

Wajah lugu belum berdosa itu menatapku lembut seakan memintaku untuk tetap bersamanya. Satu bulan sudah aku ada di penampungan ini. Dirumah kedua teman-teman baruku, karena rumah pertama mereka yang sudah lenyap terbawa arus laut yang dengan liarnya menyapu daratan. Kecil, remaja, dewasa, bahkan lansia. Disini semuanya berteman, disini semua bersaudara, dan disini semua menjadi keluarga. Aku keluarga baru bagi mereka dan akan menjadi keluarga abadi mereka walaupun tugasku disini akan segera selesai.
“ kakak, aku punya permen untuk kakak.” Tangan kecil itu memberiku beberapa bungkus permen rasa coklat. “ terima kasih, sayang. “ kataku sambil menerima permen-permen itu. “ kak ajeng masih akan disini kan?” tangannya menggandengku, seolah ingin menahanku untuk pergi. “ iya, aisyah. Kakak masih disini kok. Dihati Aisyah juga.” Dengan reflek tanganku menyentuh pipinya. Gadis kecil ini mengingatkanku akan banyak hal. Diusianya yang masih sangat kecil, ia sudah bisa hidup sendiri. Peristiwa itu telah merenggut keluarganya. Semua lenyap, semua kembali padaNya. Wajah lugu nan cantik itu masih bisa tersenyum walaupun semua telah menghilang. Ayah, ibu, adik mereka semua telah tidur manis bersama malaikat-malaikatMu. Tapi tengoklah gadis kecil ini, dia masih bisa tersenyum untuk orang lain. Walau sebenarnya dia berat untuk tinggal hanya berdua dengan kakaknya. Soleh, begitu orang-orang memanggilnya. Jangan tanya apa dia sudah bisa menjaga adiknya, aisyah. Kalau aku boleh memilih untuk menjadi adik siapa, pasti aku akan memilih soleh. Usianya tak kalah jauh dari aisyah. Delapan tahun, ya itulah usianya. Masih kecil bukan? Tapi jangan salah, tanggung jawab dan pengorbanannya lebih tinggi dan jauh lebih besar dari usianya. Sore itu soleh bercerita padaku tentang kisahnya dan ceritanya itu membuatku terharu. Sangat terharu.
“ sore itu, ibu minta aku untuk menjaga aisyah kak. Biasanya aisyah selalu ingin bermain bersamaku dan teman-temanku. Ya sudah akhirnya aku mengajaknya. Walau sebenarnya saat itu aku lagi marah banget sama aisyah.” Soleh menunduk. “ marah kenapa soleh?” tanyaku sambil terus memandangnya. “ ibu selalu saja membela aisyah. Aku sama sekali nggak disayang. Tiap hari aisyah terus yang dikasih hadiah. Aku enggak.” Soleh menangis. Ini kedua kalinya aku melihatnya menangis. Pertama, aku melihatnya menangis saat ia diketemukan dengan adiknya, aisyah. “ bukan enggak pernah soleh, tapi belum.” aku menutup mulutku. Oh tidak aku salah ngomong. “ belum kak? Tapi sekarang ibu sudah tidak ada. Apa aku harus menunggunya kembali?” soleh mulai bertanya banyak. Aku mencari seribu cara untuk menjawabnya. “ soleh, begini sayang. Ibu soleh nggak akan pernah melupakan soleh dan aisyah. Sekalipun yang diberi hadiah aisyah terus dan soleh belum. Tapi kakak yakin seratus persen kalau ibu sudah mempersiapkan hadiah untuk soleh.” Kataku sambil tersenyum dan mengusap kepala botaknya. “ kakak yakin ibu sudah mempersiapkan hadiah untukku?” ia terus bertanya. “ iya.” Jawabku singkat dan tersenyum menatapnya. “ tapi kapan?” inilah pertanyaan yang kutakutkan. Aku pun tak tau jawabannya. Kapan ibunya akan memberikan hadiahnya. Tapi aku yakin dalam hati kalau ibu soleh sudah mempersiapkan hadiah untuk anak sulungnya itu. “ suatu hari nanti soleh.” Soleh pun sepertinya puas akan jawabanku. Walau sepertinya ia juga masih bingung, siapa, apa, dan kapan suatu hari itu.
Sore ini lapangan sangat ramai. Orang-orang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pentas seni yang sudah disiapkan oleh anak-anak beberapa hari yang lalu. Banyak yang mereka lakukan, ada yang bernyanyi, menari, membaca puisi, bahkan mencurahkan isi hati. Ya, inilah suasana yang menyenangkan. Disaat kita bisa berkumpul bersama dengan yang lain, tanpa merasa sendiri. Sendiri dan sendiri terpaku menyesali yang telah terjadi. Beberapa jam telah berlalu, pentas seni ini masih juga berjalan. Wajah-wajah yang dulu muram, gelisah, dan bahkan telah kehilangan arah, sekarang berubah menjadi wajah-wajah penuh bahagia. Bahagia karena masih bisa menikmati hembusan udara dan angin, bahkan deburan ombak yang mereka takuti. Tapi, toh semua dari Allah dan akan kembali pula padaNya.
Kalau sedari tadi semua sudah bergembira ria. Sekarang, bersiap-siaplah meneteskan air mata. Tangan kecil itu memegang secarik kertas usang kemudian membacanya.
Allah ya Rahman ya Rahim..
Kemarin Kau kirimkan semua itu pada kami..
Semua yang mungkin mereka sebut bahkan juga kami sebut sebagai bencana..
Namun, aku sadar bahwa tanpa itu kami juga tidak akan pernah menyadari..
Sadar akan kuasaMu yang maha dahsyat..
Ayah, ibu, yusuf..                                       
Aku minta jaga keluargaku ya Allah..
Sore itu, aku berdosa membangkang perintah ibu..
Sore itu, sebenarnya aku memarahi aisyah..
Aku tak mengizinkannya bermain bersamaku..
Aku hanya menyuruhnya duduk dan menjaga sandalku..
Hingga dia merengek dan minta pulang..
Dan melaporkan kenakalanku pada ibu..
Namun, ternyata sampai saat ini aisyah belum bisa memberitahu ibu akan kenakalanku..
Air itu begitu dahsyatnya menyapu daratan rumah kami juga ikut terseret ya Allah..
Dirumah sederhana itu ada ayah, ibu, dan Yusuf..
Akankah mereka masih mengingat kami berdua di tengah bencana itu..
Sedangkan kami hanya berdiri diam menyaksikan semua kejadian itu dari atas sana..
Ya Allah, kalau Engkau izinkan..
Aku titip kalimatku ini pada ibu..
Ibu yang selalu aku sayang dan aku cinta..
Hadiah itu telah aku terima..
Selama ini aku hanya merajuk minta hadiah seperti yang ibu beri pada Aisyah..
Namun, aku sudah mendapatnya sekarang..
Hadiah yang lebih indah daripada bola sepak yang aku minta selama ini..
Kebersamaanku dengan aisyah..
Hadiah ini membuatku bisa menjaganya dan melindunginya..
Seperti pesan ibu padaku bahwa aku harus menjadi kakak yang baik..
Aku berjanji akan menjaga aisyah sampai aku berkumpul lagi dengan ibu, ayah, dan Yusuf..
Sorak sorai penonton mengiringi usainya puisi itu. Puisi yang begitu panjang dan indah. Curahan dari seorang anak usia delapan tahun yang ditinggal keluarganya dan harus hidup berdua dengan adiknya. Aisyah berlari keatas panggung dan memeluk erat kakaknya itu. Isak tangis haru terdengar dari barisan penonton. Begitu juga aku, air mata ini sudah tak bisa ku tahan. Dari mulut seorang anak delapan tahun bisa keluar kata-kata seindah dan sebijak itu. Apa aku juga bisa sepertinya? Ikhlas akan cobaan yang diberiNya. Dan memulai kehidupan baruku tanpa menengok kembali ke belakang. Soleh mulai mengingatkanku kalau Allah tidak pernah memberikan cobaan melewati batas kemampuan hambaNya. Ya, walaupun akhirnya ia harus hidup berdua hanya bersama aisyah. Senyum kecilnya yang amat manis itu membuat isak tangisku semakin kencang dan berlari menuju panggung untuk memeluknya. “ terima kasih soleh, hadiah itu begitu indah untuk kamu resapi secepat itu. Kamu memang hebat. Selalu ingat janji soleh pada ibu ya. Kakak yakin kamu lelaki hebat dan bertanggung jawab.” Aku tersenyum lebar dan memeluk mereka berdua dengan erat.
Pagi ini, matahari ini, tanah ini, rumput-rumput ini menjadi saksi kepergianku. Bukan apa-apa, aku harus menyelesaikan pelajaran singkat nan berharga ini dengan tangisan haru dan senyum kepuasan. Dari sosok anak kecil pun aku bisa belajar apa itu hidup sebenarnya. Hidup itu ikhlas, hidup itu perjuangan, hidup itu bersama-sama, dan hidup itu selalu ingat Allah. Aku melangkah pergi, perlahan mobil jeep ini berjalan. Walau masih pelan, namun rasanya mereka sudah jauh. Atau aku yang semakin cepat menjauh? Suara itu terus memanggilku. “ ini untuk kakak.” Soleh berlari kencang dan dibelakangnya ada aisyah yang senantiasa mengikuti kemana saja kakaknya pergi. Permen coklat dan secarik kertas berisi puisi yang kemarin ia bacakan menjadi kenangan paling indah untuk ku kenang. Terima kasih, Allah selalu menyertai kita semua. Soleh dan aisyah adik-adik kecilku yang paling kubanggakan. Selamat berjumpa lagi.

Rabu, 09 Januari 2013



Biodataku :D

nama                                       : Dwi Maryanti :)
alamat                                     : Guyangan Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta :)
hobi                                        : nyanyi, nulis, baca ( apapun yang bisa dibaca, termasuk hati kamu :p )
cita-cita                                   : penyanyi, penulis, musisi, PNS, guru :)
visi                                          : menjadikan hidupku ini bermanfaat untuk aku sendiri dan orang lain  serta                                                  beribadah pada Allah swt :)
misi                                         : selalu berusaha keras dan berdoa untuk menggapai setiap mimpi yang                                                    aku inginkan :)
motto                                   : nothing is impossible, dream believe and make it happen, hidup itu saling         berbagi :) you can, and i sure can :)






My Lirics :) (1)


 

ITU AKU :D



Ribuan hari aku menunggumu
Jutaan lagu tercipta untukmu
Apakah kau akan terus begini
Masih adakah celah di hatimu
Yang masih bisa aku tuk singgahi
Cobalah aku kapan engkau mau

Tahukah lagu yang kau suka
Tahukah bintang yang kau sapa
Tahukah rumah yang kau tuju
Itu aku…

Tahukah lagu yang kau suka
Tahukah bintang yang kau sapa
Tahukah rumah yang kau tuju
Itu aku…

Coba keluar di malam badai
Nyanyikan lagu yang kau suka
Maka kesejukan yang kau rasa
Coba keluar di terik siang
Ingatlah bintang yang kau sapa
Maka kehangatan yang kau rasa
Tahukah lagu yang kau suka
Tahukah bintang yang kau sapa
Tahukah rumah yang kau tuju
Itu aku…

Tahukah lagu yang kau suka
Tahukah bintang yang kau sapa
Tahukah rumah yang kau tuju
Itu aku…
Percayalah itu aku…
Percayalah itu aku…

Tahukah lagu yang kau suka
Tahukah bintang yang kau sapa
Tahukah rumah yang kau tuju
Itu aku…

Selasa, 08 Januari 2013

My New Idol :D
the cute girl Maudy Ayunda :))


Maudy atau Ayunda Bernama lengkap Ayunda Faza Maudya, yang kini sedang populer dalam dunia film berkat kesuksesan film Perahu Kertas dan berperan sebagai Kugy. Di Dunia Perfilman Indonesia, Maudy Ayunda bukanlah pendatang baru. Sebelumnya pernah bermain film 'Untuk Rena' pada tahun 2003. Cewek cantik ini juga pernah membintangi film – film berkualitas seperti Sang Pemimpi (2006), Rumah Tanpa Jendela (2009), Tendangan Dari Langit (2011), dan Malaikat Tanpa Sayap (2012).
Tak hanya akting cewe yang satu ini pun tak kalah Di bidang tarik suara, Maudy Ayunda juga telah mengeluarkan beberapa single yang cukup laris dipasaran. Seperti : Tiba – Tiba Cinta Datang, Aku Atau Temanmu serta Perahu Kertas.

Selain pandai berakting dan bernyanyi Maudy Ayunda juga memiliki hobi menulis, bahkan saat umur 10 tahun Maudy pernah membuat buku kumpulan dongeng anak berjudul a Forest of Fables dan semua hasil penjualannya disumbangkan untuk korban tsunami Aceh.

Biodata Profil Maudy Ayunda 
Nama lengkap : Ayunda Faza Maudya
Tanggal Lahir : 19 Desember 1994
Alamat : Jakarta Indonesia
Pekerjaan : Penyanyi dan Bintang Film

Biodaata Profil Dan Foto Maudy Ayunda Terbaru