Kamis, 10 Januari 2013

cerpen for all :)



Soleh, abangku sayang :)

Wajah lugu belum berdosa itu menatapku lembut seakan memintaku untuk tetap bersamanya. Satu bulan sudah aku ada di penampungan ini. Dirumah kedua teman-teman baruku, karena rumah pertama mereka yang sudah lenyap terbawa arus laut yang dengan liarnya menyapu daratan. Kecil, remaja, dewasa, bahkan lansia. Disini semuanya berteman, disini semua bersaudara, dan disini semua menjadi keluarga. Aku keluarga baru bagi mereka dan akan menjadi keluarga abadi mereka walaupun tugasku disini akan segera selesai.
“ kakak, aku punya permen untuk kakak.” Tangan kecil itu memberiku beberapa bungkus permen rasa coklat. “ terima kasih, sayang. “ kataku sambil menerima permen-permen itu. “ kak ajeng masih akan disini kan?” tangannya menggandengku, seolah ingin menahanku untuk pergi. “ iya, aisyah. Kakak masih disini kok. Dihati Aisyah juga.” Dengan reflek tanganku menyentuh pipinya. Gadis kecil ini mengingatkanku akan banyak hal. Diusianya yang masih sangat kecil, ia sudah bisa hidup sendiri. Peristiwa itu telah merenggut keluarganya. Semua lenyap, semua kembali padaNya. Wajah lugu nan cantik itu masih bisa tersenyum walaupun semua telah menghilang. Ayah, ibu, adik mereka semua telah tidur manis bersama malaikat-malaikatMu. Tapi tengoklah gadis kecil ini, dia masih bisa tersenyum untuk orang lain. Walau sebenarnya dia berat untuk tinggal hanya berdua dengan kakaknya. Soleh, begitu orang-orang memanggilnya. Jangan tanya apa dia sudah bisa menjaga adiknya, aisyah. Kalau aku boleh memilih untuk menjadi adik siapa, pasti aku akan memilih soleh. Usianya tak kalah jauh dari aisyah. Delapan tahun, ya itulah usianya. Masih kecil bukan? Tapi jangan salah, tanggung jawab dan pengorbanannya lebih tinggi dan jauh lebih besar dari usianya. Sore itu soleh bercerita padaku tentang kisahnya dan ceritanya itu membuatku terharu. Sangat terharu.
“ sore itu, ibu minta aku untuk menjaga aisyah kak. Biasanya aisyah selalu ingin bermain bersamaku dan teman-temanku. Ya sudah akhirnya aku mengajaknya. Walau sebenarnya saat itu aku lagi marah banget sama aisyah.” Soleh menunduk. “ marah kenapa soleh?” tanyaku sambil terus memandangnya. “ ibu selalu saja membela aisyah. Aku sama sekali nggak disayang. Tiap hari aisyah terus yang dikasih hadiah. Aku enggak.” Soleh menangis. Ini kedua kalinya aku melihatnya menangis. Pertama, aku melihatnya menangis saat ia diketemukan dengan adiknya, aisyah. “ bukan enggak pernah soleh, tapi belum.” aku menutup mulutku. Oh tidak aku salah ngomong. “ belum kak? Tapi sekarang ibu sudah tidak ada. Apa aku harus menunggunya kembali?” soleh mulai bertanya banyak. Aku mencari seribu cara untuk menjawabnya. “ soleh, begini sayang. Ibu soleh nggak akan pernah melupakan soleh dan aisyah. Sekalipun yang diberi hadiah aisyah terus dan soleh belum. Tapi kakak yakin seratus persen kalau ibu sudah mempersiapkan hadiah untuk soleh.” Kataku sambil tersenyum dan mengusap kepala botaknya. “ kakak yakin ibu sudah mempersiapkan hadiah untukku?” ia terus bertanya. “ iya.” Jawabku singkat dan tersenyum menatapnya. “ tapi kapan?” inilah pertanyaan yang kutakutkan. Aku pun tak tau jawabannya. Kapan ibunya akan memberikan hadiahnya. Tapi aku yakin dalam hati kalau ibu soleh sudah mempersiapkan hadiah untuk anak sulungnya itu. “ suatu hari nanti soleh.” Soleh pun sepertinya puas akan jawabanku. Walau sepertinya ia juga masih bingung, siapa, apa, dan kapan suatu hari itu.
Sore ini lapangan sangat ramai. Orang-orang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pentas seni yang sudah disiapkan oleh anak-anak beberapa hari yang lalu. Banyak yang mereka lakukan, ada yang bernyanyi, menari, membaca puisi, bahkan mencurahkan isi hati. Ya, inilah suasana yang menyenangkan. Disaat kita bisa berkumpul bersama dengan yang lain, tanpa merasa sendiri. Sendiri dan sendiri terpaku menyesali yang telah terjadi. Beberapa jam telah berlalu, pentas seni ini masih juga berjalan. Wajah-wajah yang dulu muram, gelisah, dan bahkan telah kehilangan arah, sekarang berubah menjadi wajah-wajah penuh bahagia. Bahagia karena masih bisa menikmati hembusan udara dan angin, bahkan deburan ombak yang mereka takuti. Tapi, toh semua dari Allah dan akan kembali pula padaNya.
Kalau sedari tadi semua sudah bergembira ria. Sekarang, bersiap-siaplah meneteskan air mata. Tangan kecil itu memegang secarik kertas usang kemudian membacanya.
Allah ya Rahman ya Rahim..
Kemarin Kau kirimkan semua itu pada kami..
Semua yang mungkin mereka sebut bahkan juga kami sebut sebagai bencana..
Namun, aku sadar bahwa tanpa itu kami juga tidak akan pernah menyadari..
Sadar akan kuasaMu yang maha dahsyat..
Ayah, ibu, yusuf..                                       
Aku minta jaga keluargaku ya Allah..
Sore itu, aku berdosa membangkang perintah ibu..
Sore itu, sebenarnya aku memarahi aisyah..
Aku tak mengizinkannya bermain bersamaku..
Aku hanya menyuruhnya duduk dan menjaga sandalku..
Hingga dia merengek dan minta pulang..
Dan melaporkan kenakalanku pada ibu..
Namun, ternyata sampai saat ini aisyah belum bisa memberitahu ibu akan kenakalanku..
Air itu begitu dahsyatnya menyapu daratan rumah kami juga ikut terseret ya Allah..
Dirumah sederhana itu ada ayah, ibu, dan Yusuf..
Akankah mereka masih mengingat kami berdua di tengah bencana itu..
Sedangkan kami hanya berdiri diam menyaksikan semua kejadian itu dari atas sana..
Ya Allah, kalau Engkau izinkan..
Aku titip kalimatku ini pada ibu..
Ibu yang selalu aku sayang dan aku cinta..
Hadiah itu telah aku terima..
Selama ini aku hanya merajuk minta hadiah seperti yang ibu beri pada Aisyah..
Namun, aku sudah mendapatnya sekarang..
Hadiah yang lebih indah daripada bola sepak yang aku minta selama ini..
Kebersamaanku dengan aisyah..
Hadiah ini membuatku bisa menjaganya dan melindunginya..
Seperti pesan ibu padaku bahwa aku harus menjadi kakak yang baik..
Aku berjanji akan menjaga aisyah sampai aku berkumpul lagi dengan ibu, ayah, dan Yusuf..
Sorak sorai penonton mengiringi usainya puisi itu. Puisi yang begitu panjang dan indah. Curahan dari seorang anak usia delapan tahun yang ditinggal keluarganya dan harus hidup berdua dengan adiknya. Aisyah berlari keatas panggung dan memeluk erat kakaknya itu. Isak tangis haru terdengar dari barisan penonton. Begitu juga aku, air mata ini sudah tak bisa ku tahan. Dari mulut seorang anak delapan tahun bisa keluar kata-kata seindah dan sebijak itu. Apa aku juga bisa sepertinya? Ikhlas akan cobaan yang diberiNya. Dan memulai kehidupan baruku tanpa menengok kembali ke belakang. Soleh mulai mengingatkanku kalau Allah tidak pernah memberikan cobaan melewati batas kemampuan hambaNya. Ya, walaupun akhirnya ia harus hidup berdua hanya bersama aisyah. Senyum kecilnya yang amat manis itu membuat isak tangisku semakin kencang dan berlari menuju panggung untuk memeluknya. “ terima kasih soleh, hadiah itu begitu indah untuk kamu resapi secepat itu. Kamu memang hebat. Selalu ingat janji soleh pada ibu ya. Kakak yakin kamu lelaki hebat dan bertanggung jawab.” Aku tersenyum lebar dan memeluk mereka berdua dengan erat.
Pagi ini, matahari ini, tanah ini, rumput-rumput ini menjadi saksi kepergianku. Bukan apa-apa, aku harus menyelesaikan pelajaran singkat nan berharga ini dengan tangisan haru dan senyum kepuasan. Dari sosok anak kecil pun aku bisa belajar apa itu hidup sebenarnya. Hidup itu ikhlas, hidup itu perjuangan, hidup itu bersama-sama, dan hidup itu selalu ingat Allah. Aku melangkah pergi, perlahan mobil jeep ini berjalan. Walau masih pelan, namun rasanya mereka sudah jauh. Atau aku yang semakin cepat menjauh? Suara itu terus memanggilku. “ ini untuk kakak.” Soleh berlari kencang dan dibelakangnya ada aisyah yang senantiasa mengikuti kemana saja kakaknya pergi. Permen coklat dan secarik kertas berisi puisi yang kemarin ia bacakan menjadi kenangan paling indah untuk ku kenang. Terima kasih, Allah selalu menyertai kita semua. Soleh dan aisyah adik-adik kecilku yang paling kubanggakan. Selamat berjumpa lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar